Salam dan bahagia, perkenalkan nama saya DEDI SETIAWAN, S.Kom.,Gr. bertugas di SMA Negeri 11 Luwu Timur, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Saat ini saya sedang menempuh Pendidikan guru penggerak sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 10. Dalam artikel ini, saya akan berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Bapak Ibu Guru di seluruh Indonesia mari kita Bersama merenungkan kalimat bijak ini:
“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka
apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Bob Talbert)
Pendidikan adalah suatu proses yang sistematis dan terencana
yang sangat berdampak pada perilaku dan karakter murid. Ilmu yang baik
dilandasi oleh karakter baik sehingga murid dapat menjalankan kehidupan dengan
Bahagia dan keselamatan setinggi-tingginya. Seorang pendidik harus mampu
menjadi teladan utama bagi murid-muridnya, dengan keteladanan perkataan maupun
tindakan semua tercermin dalam kesehariannya. Menjadi pendidik berarti kita
siap menjadi role model semua nilai kebajikan bagi peserta didik dan seluruh
warga sekolah bahkan di lingkungan kita tinggal.
Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut ini,
“Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi
berperilaku etis.”
(Georg Wilhelm Friedrich Hegel).
Memahami kalimat bijak tersebut pendidikan merupakan suatu
proses menuntun murid dengan penguatan karakter, norma -norma sehingga
akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk
menjalankan kehidupannya.
Setelah kita mencoba memahami dua kalimat bijak tersebut,
berikut ini adalah rangkuman kesimpulan pembelajaran modul 3.1 koneksi antar
materi Pendidikan guru penggerak Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai
kebajikan sebagai seorang pemimpin.
1. Bagaimana
filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar
Dewantara (KHD) Pratap Triloka memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang pernah dicetuskan oleh
KHD dan sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak pendidik adalah Ing
Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya
Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat
dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu
memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru)
harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah
juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang
muridnya.
KHD berpandangan
bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik
baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus
memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing
madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat
menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri.
Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai
dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.
KHD memberikan smeboyan yang sangat
fenomenal dan memiliki makna mendalam yang menjadi landasan dalam setiap
pengambilan keputusan selalu berpihak kepada murid untuk menjadikan generasi
cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila. Implementasi dalam
pembelajaran adalah segala konten dan proses pembelajaran hendaknya berpihak
pada murid. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja, namun juga guru
mentransfer nilai -nilai kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus
dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan
keputusan.
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil
dalam pengambilan suatu keputusan?
Guru sebagai
pendidik harus memiliki nilai-nilai positif yang mampu menciptakan pembelajaran
yang berpihak pada murid seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif,
serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang
teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil
keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada
situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara
benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama
untuk mengambil keputusan yang benar.
Nilai-nilai
kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan
keputusaan. Sebagai manusia yang beragama, kita yakin apapun yang kita
lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pula dengan pengambilan
keputusan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam
keteladanan dan kebijakan – kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan.
Keputusan tepat yang diambil
tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan
dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil
keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan
kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik. Nilai-nilai positif mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi
dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan
diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil
keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan
konsekuensi yang akan terjadi.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam
pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut
telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan
tersebut?
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada
sebelumnya.
Dalam materi
pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, saya merasa bahwa pengambilan keputusan yang saya lakukan sudah efektif.
Dalam koneksi materi pengambilan keputusan dengan keterampilan coaching, di
sini coach harus memiliki keterampilan menggali kemampuan orang lain dalam
memecahkan suatu masalah yang dihadapi coachee. Keterampilan coaching tersebuat
diantaranya yaitu: mampu memberikan pertanyaan yang berbobot, memiliki
pembawaan yang positif, kemampuan mendengarkan dan memotivasi, bisa memandu
percakapan, berkomitmen untuk terus belajar. Pendekatan coaching sistem among
dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan kepanjangan
dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab.
Lanjut dengan
pertanyaan berikutnya, di sini saya merasa bahwa kegiatan coaching yang
diberikan fasilitator membantu saya berlatih mengevaluasi pilihan yang saya
buat. Apakah keputusan yang saya buat itu sudah berpihak pada siswa,
apakah sudah sesuai dengan kebajikan universal, apakah keputusan itu dapat
dipertanggung jawabkan? Guru sebisa mungkin harus dapat menggali potensi
siswanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehingga mereka dapat
menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk memecahkan masalahnya
sendiri. Keterampilan coaching membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran
dengan pertanyaan untuk memprediksi hasil dan pilihan yang berbeda untuk
pengambilan keputusan. Coaching juga mempengaruhi proses belajar siswa,
membantu saya dalam membuat keputusan yang tepat yang mempengaruhi lingkungan
belajar yang positif, kondusif, aman dan lingkungan yang nyaman. Sesi coaching
dengan Teknik coachingnya sangat membantu saya sebagai seorang guru untuk
mengidentifikasi masalah dan menghasilkan keputusan yang tepat ketika
menentukan dilema etika ataupun bujukan moral pada murid.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan
khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru
dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh
terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika, hal ini
dikarenakan pendidik dalam hal ini guru harus mampu melihat dan memahami
kebutuhan belajar siswanya serta mengelola kapasitas sosial dan emosionalnya
dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Sesuai dengan
koneksi materi antar modul maka proses pengambilan keputusan yang bertanggung
jawab membutuhkan keterampilan sosial-emosional seperti kepercayaan diri,
kesadaran diri (self awarness), kesadaran sosial, dan keterampilan sosial. Guru
harus dapat mengenali berbagai pilihan dan kemungkinan hasil serta meminimalkan
kesalahan/resiko dalam proses pengambilan keputusan, terutama masalah dilema
etika dimana keduanya sama-sama memiliki nilai kebenaran atau sama-sama
mengandung nilai kebajikan.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai -
nilai yang dianut seorang pendidik?
Pendidik yaitu guru
sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu melihat setiap masalah yang
dihadapinya baik di kelas mapun di sekolah. Bisa jadi kasus atau masalah yang
dihadapi merupakan sebuah dilema etika atau bujukan moral. Guru jaman now yang
notabene merupakan guru di era merdeka belajar harus memiliki nilai pendidik
yang inovatif, kolaboratif, mandiri, dan reflektif yang dapat membimbing
peserta didik dalam mengambil keputusan dan mengenali potensi dirinya untuk
mengatasi isu tantangan global. Guru harus menyajikan pembelajaran dan
melakukan pengambilan keputusan untuk kepentingan murid, menjunjung tinggi
prinsip/nilai kita sendiri dan melakukan apa yang kita ingin orang lain lakukan
terhadap kita. Guru harus berusaha membuat keputusan yang bertanggung jawab
dengan melakukan pengambilan dan pengujian pengambilan keputusan pada setiap
masalah yang dihadapi. Jika seorang guru menghadapi masalah dilema etika yaitu
nilai benar vs benar, maka guru harus melakukan analisa melalui 4 paradigma
pengambilan keputusan dan 3 prinsip pengambilan keputusan serta melakukan
tahapan dalam 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Kesembilan Langkah
dalam pengujian pengambilan keputusan ini harus dilakukan secara urut dan
sistematis agar menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid, mengandung
nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggung jawabkan.
6. Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Pengambilan
keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak positif pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Hal ini dikarenakan melalui
pengambilan keputusan yang tepat, maka akan menciptakan iklim lingkungan yang
positif berdampak pada penciptaan lingkungan kondusif bahkan aman dan sangat
nyaman untuk ditinggali. Guru sebagai pendidik harus mengambil keputusan yang
tepat yaitu berpihak pada murid, mengandung nilai kebajikan universal dan dapat
dipertanggung jawabkan. Jika keputusan yang diambil tepat sesuai penjelasan di
atas maka lingkungan pasti akan menerima juga. Lalu muncul pertanyaan,
bagaimana sebaiknya agar kita melakukan pengambilan keputusan yang tepat? Iya,
hal yang pertama yg wajib kita lakukan adalah mengenali terlebih dahulu masalah
yg terjadi apakah masalah tadi termasuk dilema etika atau bujukan moral.
Apabila masalah tadi adalah dilema etika, sebelum membuat sebuah keputusan kita
wajib bisa menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip
dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga keputusan yg kita
ambil bisa membangun lingkungan yg positif, kondusif, kondusif & nyaman
buat muridnya. Intinya pengambilan keputusan yg sempurna terkait masalah dalam
bujukan atau dilema etika hanya bisa dicapai bila dilakukan melalui 9 langkah
pengambilan & pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa bila pengambilan
keputusan dilakukan secara seksama melalui proses analisis perkara yg cermat
dan akurat menggunakan 9 langkah tadi, maka keputusan tadi diyakini akan bisa
mengakomodasi seluruh kepentingan kepada pihak-pihak yg terlibat, maka hal tadi
akan berdampak dalam terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, kondusif
dan nyaman.
7. Apakah
tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan
perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan di
lingkungan saya untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilemma etika adalah seringkali keputusan diambil sepihak tanpa
melibatkan banyak komponen yang terlibat. Keputusan yang diambil juga secara
langsung tanpa melalui tahapan yang tepat sehingga berdampak pada resiko yang
besar dan lingkungan tidak kondusif. Pemimpin cenferung otoriter dalam
mengambil keputusan tanpa mendengarkan pendapat orang lain yang berkepentingan.
Dalam modul 3.1 jelas disebutkan bahwa terdapat 4 paradigma, 3 prinsip yang
perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. prinsip berpikir berbasis
hasil akhir (endbased thinking), kita juga harus melihat peraturan yang mendasari
keputusan yang kita ambil (berpikir berbasis peraturan-rule based thinking),
prinsip berpikir berbasis rasa peduli (carebased thinking). Jika kita
berpedoman pada 4 paradigma dan 3 prinsip tersebut tentu tantangan-tantangan
yang ada akan sedikit jumlahnya dibandingkan apabila kita tidak menggunakan 3
prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Dapat dipastikan bahwa bila
pengambilan keputusan dilakukan secara seksama melalui proses analisis perkara
yg cermat dan akurat menggunakan 9 langkah tadi, maka keputusan tadi diyakini
akan bisa mengakomodasi seluruh kepentingan kepada pihak-pihak yg terlibat,
maka hal tadi akan berdampak dalam terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, kondusif dan nyaman.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Terdapat pengaruh
positif anatara pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran
yang memerdekakan murid-murid kita. Hal ini dikarenakan, pengambilan keputusan
yang kita ambil sangat berpihak pada murid dan memperhatikan potensi murid yang
berbeda-beda. Modul 3.1 ini sangat bermanfaat bagi guru dalam pengambilan
keputusan yang berpihak pada murid. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam merdeka
belajar muaranya adalag memerdekakan murid, agar ia tumbuh dan berkembang
mencapai kodratnya sesuai dengan potensi yang ia miliki. Seyogyanya ketika kita
menemui dilemma etika, kita harus dapat menyelesaikan permasalahan tersebut
dengan mengambil sebuah keputusan dengan tepat. Dengan semua materi yang telah
dipelajari dari modul 3.1 ini maka ketika kita mengambil keputusan harus
memperhatikan beberapa hal penting terkait 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan maka keputusan yang kita ambil akan
berdampak baik kepada murid karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah
dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid, sehingga dengan
keselamatan dan kebahagiaan.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Sebagai seorang
pemimpin pembelajaran, guru harus melakukan pengambilan keputusan yang
memerdekakan dan berpihak pada murid. Jika hal ini terjadi maka, murid
sebagai benih akan tumbuh menjadi probadi yang merdeka, kreatif, inovatif dalam
mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Murid kita
akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat
dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.
Guru mengambil keputusan yang diharapkan membawa dampak agar membawa kesuksesan
dalam kehidupan murid di masa yang akan datang. Semua keputusan yang diambil
harus berpihak kepada murid melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana
dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan
kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi
yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi
produk. Hal ini dikenal dengan model pembelajaran berdiferensiasi.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang
didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul
sebelumnya yaitu:
·
Pengambilan keputusan harus berlandaskan kepada filosofi Ki
Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran yaitu filosofi Ki
Hajar Dewantara (KHD) Pratap Triloka memberikan pengaruh yang besar dalam
mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
·
Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan
menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman (well being).
·
Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki
kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju
profil pelajar Pancasila.
·
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial
emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya
masalah dilema etika, hal ini dikarenakan pendidik dalam hal ini guru harus
mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar siswanya serta mengelola kapasitas
sosial dan emosionalnya dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran.
·
Dalam koneksi materi pengambilan keputusan dengan keterampilan
coaching, di sini coach harus memiliki keterampilan menggali kemampuan orang
lain dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi coachee. Keterampilan coaching
tersebuat diantaranya yaitu: mampu memberikan pertanyaan yang berbobot,
memiliki pembawaan yang positif, kemampuan mendengarkan dan memotivasi, bisa
memandu percakapan, berkomitmen untuk terus belajar. Pendekatan coaching sistem
among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan
kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung
jawab.
·
Kasus yang ditemui oleh pendidik tentunya kebanyakan adalah
dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan analisa 4 paradigma, 3
prinsip dan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk
memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada
murid demi terwujudnya merdeka belajar.
11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu :
dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda
di luar
dugaan?
Berikut pemahaman
saya tentang modul 3.1:
Dilema etika
sendiri merupakan dua keputusan yang sama-sama benar sedangkan bujukan
moral adalah dua keputusan dimasa salah satunya adalah keputusan yang salah.
Jadi jelas bahwa dilema etika benar lawan benar sedangkan bujukan moral
keputusan yang benar lawan salah.
Tentu seringkali
guru menemui atau menghadapi situasi dimana harus mengambil keputusan yang di
situ terdapat nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama memiliki nilai
kebenaran, namun saling bertentangan. Dalam modul ini sangat jelas bahwa
sesulit apapun keputusan yang akan diambil, sebagai guru paling tidak selalu
berpatokan dengan 3 unsur yang berpihak pada murid, berdasarkan nilai-nilai
kebajikan universal, dan bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dari
keputusan yang diambil.
Secara umum ada
pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa
dikategorikan seperti di bawah ini:
1. Individu lawan
kelompok (individual vs community)
2. Rasa keadilan
lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran
lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek
lawan jangka panjang (short term vs long term)
Seorang guru
sebagaim pemimpin pembelajaran juga dapat menganalisis 3 prinsip atau
pendekatan dalam pengambilan keputusan yang memuat unsur dilema etika, serta
menilai dirinya memiliki kecenderungan menggunakan prinsip yang mana pada saat
pengambilan keputusan. Ketiga prinsip tersebut adalah:
Berpikir Berbasis
Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
Berpikir Berbasis
Peraturan (Rule-Based Thinking)
Berpikir Berbasis
Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Suatu pengambilan keputusan,
walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap
akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat
kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh
tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid.
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru juga harus memastikan bahwa
keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu, perlu
dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai
dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai
kebajikan. Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan yaitu sbb:
1. Mengenali bahwa
ada nilai-nilai yang salingbertentangan
2. Menentukan siapa
yang terlibat dalam situasi ini
3. Mengumpulkan
fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini
4. Pengujian benar
atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji
panutan/idola)
5. Pengujian
paradigma benar atau salah
6. Prinsip
pengambilan keputusan
7. Investigasi tri
lema
8. Buat keputusan
9. Meninjau kembali
keputusan dan refleksikan
Hal yang menurut
saya diluar dugaan adalah ketika saya mengambil suatu keputusan saya hanya
berpikir benar-salah, untung-rugi saja. Ternyata dalam pengambilan keputusan
bukan hanya mengambil sesuai pemikiran saya saja namun perlu melihat 4
paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.
Karena selama ini saya cukup menyelesaikan semua kasus dengan musyawarah lalu
mufakat dan memiliki resiko paling kecil.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai
pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari
di modul ini?
Sebelum
mempelajari modul 3.1, saya banyak menjumpai kasus dilema etika dan bujukan
moral. Saya langsung memutuskan semua kasus tanpa melakukan pengujian terlebih
dahulu. Semua keputusan hanya didasarkan pada intuisi saya, nilai-nilai saya,
dan pertimbangan saya terhadap orang lain. Jadi saat mempelajari modul 3.1,
saya merasa bahwa pemikiran berbasis rasa peduli atau care based
Thinking adalah prinsip yang digunakan dalam pengambilan keputusan,
terutama yang berkaitan dengan dilema etika. Dalam kasus dilema etika bahkan
sering berakibat lingkungan kurang kondusif karena saya mengambil keputusan
tanpa pengujian, kadang saya juga menggunakan uji panutan atau idola. Prosedur
pengambilan keputusan saya tidak sama persis dengan konsep yang saya pelajari
dalam modul, tetapi ada kesamaan. Ini berarti menganalisis unsur kebenaran
lawan salah dan uji panutan dan idola.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda
dalam mengambil keputusan
sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Setelah saya
mempelajari modul 3.1, saya menjadi lebih mantap, yakin dan percaya diri dalam
mengambil keputusan terkait kasus dilema etika, terutama sebagai pemimpin
pembelajaran. Setelah melalui proses analisa paradigma dan prinsip pengambilan
keputusan serta pengujian keputusan melalui sembilan langkah ini, saya merasa
lebih percaya diri karena saya tahu keputusan saya benar dan efektif. Sehingga
dengan melakukan tahapan yang tepat akan meminimalisir dampak negatif terhadap
pengambilan keputusan yang telah saya ambil karena telah melalui tahapan yang
seharusnya. Keputusan yang saya ambil juga saya usahakan berpihak pada murid.
Segala keputusan yang saya ambil kini lebih berdampak positif terhadap lingkungan
sehingga lingkungan nyaman, aman dan kondusif. Melalui 9 langkah pengujian
dalam pengambilan keputusan, saya merasa semua Langkah tertata dan terbantu
dalam setiap penyelesaian kasus dilema etika yang saya hadapi.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai
seorang pemimpin?
Jika ditanya
seberapa penting, maka saya jawab sangat penting. Hal ini dikarenakan modul 3.1
ini snagat membantu saya dalam pengambilan keputusan pada kasus dilema etika.
Secara individu sebagai guru ataupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah,
kini saya dapat membuat keputusan yang benar dan efektif serta menghindari
pengambilan keputusan yang ceroboh atau merugikan orang banyak. Sebelum saya
mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan, saya merasa bahwa banyak
hal dan keputusan yang saya buat tidak didasarkan pada cara berpikir yang jelas
dan terstruktur. Akan tetapi sekarang saya lebih terbantu dalam membuat
keputusan yang tepat. Sekarang saya lebih percaya diri memutuskan segala kasus
baik dilema etika dan bujukan moral dengan menggunakan sembilan langkah
pengambilan keputusan. Saya semakin percaya diri dalam membuat keputusan yang
tepat. Saya akan segera mengimplementasikan keterampilan membuat keputusan
sesuai modul 3.1 dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh akan membutuhkan
lebih banyak latihan dan pembelajaran.
Salam dan Bahagia